Enam Bulan Jabat Bupati Mukomuko, Sapuan Keluarkan 4 SK Pemberhentian Kades

Pemerintahan3258 Dilihat

Berita Mukomuko, Metro – Kurun waktu enam bulan memimpin Kabupaten Mukomuko, H. Sapuan, SE., MM, Ak, CA., CPA telah mengeluarkan 4 Surat Keputusan (SK) pemberhentian Kepala Desa (Kades).

Ke empat Kades yang diberhentikan adalah tiga Kades Depinitif dan satu Penjabat (Pj) yang berasal dari empat Kecamatan berbeda, yakni Kecamatan Pondok Suguh, Kecamatan Air Manjunto, Kecamatan Kota Mukomuko dan Selagan Raya.

banner 970x250

Heni Rahmawati, seorang penjabat Kepala Desa Air Bikuk Kecamatan Pondok Suguh yang saat ini telah kembali ke instansi induk yakni UPTD Puskesmas Pondok Suguh mengatakan, jika dirinya tidak lagi menjabat sejak awal Juni lalu.

ASN UPTD Puskesmas Pondok Suguh ini mengaku tak terlalu memikirkan hal ini. Sebagai seorang pegawai Negeri, Heni harus tunduk dan patuh terhadap perintah atasan.

“Ya konsekuensinya sebagai ASN yang harus memiliki loyalitas dan patuh terhadap perintah pimpinan. Gak mas, apa yang saya alami merupakan perjalanan karier saya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Saya rasa seluruh pegawai mengalami yang namanya mutasi,” kata Heni, Minggu (18/07 /2021) melalui telepon seluler.

Saat disinggung alasan pemberhentian, wanita cantik ini enggan memberikan tanggapanya. Heni mengatakan itu merupakan kebijakan pimpinan.

“Ya gak tau alasannya apa, yang jelas bagi saya ini merupakan kebijakan pimpinan. Kalau di SK disebutkan DIBERHENTIKAN DENGAN HORMAT,” ujarnya.

Di bulan yang sama, Bupati Mukomuko kembali mengeluarkan tiga surat pemberhentian Kades Desa depinitif.

Suswandi, Kades Pondok Baru, Kecamatan Selagan Raya diberhentikan melalui surat Keputusan Bupati Mukomuko Nomor 100-234 Tahun 2021 tentang pemberhentian Kepala Desa

Sedangkan Sumanto diberhentikan berdasarkan Keputusan Bupati Mukomuko Nomor 100-233 Tahun 2021 Tentang Pemberhentian Kepala Desa Selagan Jaya Kabupaten Mukomuko.

Setelah keduanya, Kades Manjunto Jaya, Dwi Sartika Sari juga diberhentikan karena beberapa waktu yang lalu membuat resah warganya. Selain itu ada indikasi penyalahgunaan penggunaan Dana Desa (DD).

Plt Asisten I Setdakab Mukomuko, Dr. Abdiyanto membenarkan pemberhentian Dwi Sartika Sari. Ia mengatakan salah satu dasar pemberhentianya adalah adanya laporan Lembaga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat yang melaporkan jika Kepala Desa Manjunto Jaya telah melakukan larangan seorang yang menjabat sebagai Kades alias kode etik.

Suswandi – Mantan Kades Pondok Baru

“Benar, surat itu dikeluarkan akhir bulan lalu (Juni.red). Ia (Kades) berdasarkan laporan BPD setempat telah membuat kegaduhan ditengah masyarakat. Ya ada indikasi penyalahgunaan pengelolaan dana Desa (DD). Namun belum terbukti,” kata Abdiyanto, Minggu (18/07 /2021) melalui telepon seluler.

Kepala Desa Manjunto Jaya, Dwi Sartika Sari saat dihubungi radarbumipekal.id mengaku belum mengetahui pemberhentian tersebut. Dwi sendiri saat ini sedang menjalani isolasi mandiri.

“Saya belum tahu, saya masih isolasi,” kata Kades berperas cantik ini , Sabtu (17 /07 /2021) melalui pesan whatsapp.

Gianto, SH., M.Si – Kadis PMD Mukomuko

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Mukomuko, Gianto, SH., M.Si saat dihubungi juga membenarkan pemberhentian Dwi Sartika Sari.

” Ya benar mas, yang bersangkutan di berhentikan,” kata Gianto, Minggu (18/07 /2021) melalui pesan whatsapp.

Gianto menjelaskan, Pj Kades Air Bikuk diberhentikan setelah adanya evaluasi dari Pemerintah Kecamatan Pondok Suguh. Sedangkan Kades lainnya berdasarkan beberapa hal.

Abdiyanto – Plt Asisten I Setdakab Mukomuko

“Intinya saudara Heni ditarik atau di tugaskan kembali ke instansi awal agar yang bersangkutan maksimal dalam tugasnya di instansi awal,” jelasnya.

Sekedar mengingatkan, tahun lalu, pada Sabtu malam (06/06/2020) sekitar pukul 21:30 wib Kades Manjunto Jaya, Dwi Sartika Sari menerima seorang tamu lelaki yang tak lain adalah rekan seprofesinya yakni Kades Tunggal Jaya Kecamatan Teras Terunjam dan ‘digrebek’ oleh warganya.

Saat mediasi, Camat Air Manjunto Sardi mengatakan jika peristiwa tersebut bukanlah penggerebekan, Ia menceritakan awalnya salah satu warga mendatangi rumah Kades dan menanyakan tujuan tamunya yang sering mendatangi rumah Dwi. Karena dikuwatir situasi yang tidak diinginkan, akhirnya Kades Manjunto Jaya dibawa ke Kantor Desa.

Warga sempat meminta Dwi turun dari jabatanya. Namun Sardi menjelaskan kepada warga jika tuntutan masyarakat dan pemuda tersebut sangat tidak relevan, sebab saat warga datang keduanya tidak dalam kondisi berbuat asusila.

“Tamunya adalah rekan se profesinya yakni salah satu Kades di Kecamatan Teras Terunjam. Saat warga datang keduanya berada diruang tamu dan sedang minum kopi,serta waktu berkunjung juga masih sekitar pukul 21.15 Wib sehingga masih tahap kewajaran bertamu dan dianggap tidak menyalahi norma adat. “kata Camat Air Manjunto saat itu. (YN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed